Minggu, 20 Mei 2012

Menebak Kematian

Dia sangat dekat, menyapaku menyapamu tanpa bisa terhalang tembok yang tebal.. dia tetap datang walau wajahmu ditutup dengan bantal..

Cupertino California, 4 Oktober 2011
Para penggila Apple hari ini menunggu peluncuran produk Apple terbaru, yang rumornya adalah iPhone 5. CEO Apple yang baru Tim Cook untuk pertama kalinya muncul di depan panggung megah itu. Selama ini sosok yang paling ditunggu-tunggu dalam setiap peluncuran produk baru Apple adalah sang maestronya.. Steve Jobs, namun kanker pankreas yang dideritanya selama bertahun-tahun memaksa si genius itu untuk mundur dari jabatannya. Ternyata yang diluncurkan hari itu bukanlah iPhone 5 seperti yang santer dibicarakan banyak orang. Produk baru itu namanya iPhone 4S, hanya upgrade dari iPhone 4 yang sudah launching awal tahun 2011 lalu. Entah ini sebuah kebetulan atau tidak, 4 dalam kepercayaan China adalah huruf ‘Mati’... mereka menjauhi angka 4, bahkan banyak gedung-gedung di Jakarta yang tidak punya lantai 4, kita tidak menemukan angka itu di dalam tombol lift. S adalah Steve... sehari kemudian Apple dan dunia berduka, 5 Oktober 2011 Steve Jobs meninggal dunia. Kepergian sang jenius yang merubah dunia diantar oleh produk baru yang tetap laris manissss! iPhone 4S....



Berbah, Jogjakarta Mei 2011..
Ibuku baru pulang pengajian Jumat pagi di kelurahan, hari itu yang menjadi penceramah pak Dimyati, beliau guru agamaku waktu SMA dulu. Ibuku bercerita apa yang disampaikan pak Dim pagi ini. 
“Mbah Ginem kemarin meninggal dunia, saya ikut takziah dan mengantarnya ke makam. Mbah Ginem sosok petani desa biasa, hidup gak neko-neko. Setiap Adzan berbunyi mbah Ginem selalu sholat di masjid. Dia orang yang selalu puasa senen kamis, prihatin hidup di dunia ini. Allah sangat mencintainya... kemarin ketika sedang sholat Magrib di mushola, seusai sujud mau takhiyat akhir tiba-tiba tubuh mbah Ginem terjatuh ke lantai.. jemaah yang lain langsung menolongnya, namun mbah Ginem sudah tiada. Semudah itulah kematian wanita sederhana itu.. tanpa sakit berbulan-bulan dan menghabiskan uang jutaan, tanpa perlu merepotkan anak, keluarga dan tetangga, tanpa perlu mengerang-ngerang seperti kematian dengan rasa sakit seperti 300 kali bacokan pedang yang sering kita bayangkan... maklessss, gampaaang sekali dia kembali kepada Tuhannya...”
Ibuku bercerita dengan menggebu-gebu pagi itu..

Jogjakarta, tahun 80an..
Masih ingat dengan Eyang Suryo, yang pernah menjanjikan bahwa Gusti Allah akan mengirim beras untuk anak-anak Yatim itu. Kisah ini aku dengarkan dari mas Tono lagi. Eyang Suryo hari itu pergi ke pasar sendirian, sore hari beliau sudah pulang ke panti. Tidak seperti biasanya seusai sholat Isya beliau mengumpulkan anak-anaknya juga para santri di Panti itu.
“malam ini kalian tidak boleh begadang, kalian langsung tidur semua ya.. karena besok akan ada acara besar, biar kalian besok gak kecapekan..”
“Acara apa itu Eyang..?” tanya mereka
“Besok kalian akan tau, sekarang istirahatlah semuanya..”
Pagi menjelang berangkat siang, panti asuhan itu dikejutkan dengan Eyang Suryo yang meninggal mendadak. Tanpa sakit, tanpa keluhan apa-apa. Seorang anaknya menemukan buntelan yang kemarin siang dibeli oleh Eyang Suryo di Pasar adalah kain kafan, kapas, dan pewangi perlengkapan untuk orang mati. Gusti Allah Yang Maha Berkuasa seolah meminta malaikat datang ke rumah itu kemarin, membisikkan di telinga lelaki tua itu, bahwa besok adalah matahari pagi terakhir yang akan dia temui di dunia...
Sore menjelang, isak tangis dan doa-doa mengantar manusia yang sangat percaya pada Tuhannya itu kembali pulang ke asalnya...
---------------------------

Siang itu di sela ngisi seminar di kampus UPN Jogja aku ngobrol dengan mas Arief Budiman, sahabatku yang Direktur Petak Umpet itu, perusahaan Advertising yang membikin iklan-iklan Gudang Garam tiap hari sliweran di semua stasiun TV.
“Eh Sap, simbahnya temenku itu meninggalnya unik. Simbah itu hobinya sholat tahajud rutin tanpa putus, jadi kalo malam simbah pasti dah bangun dan sholat sampai subuh menjelang. Nah seminggu sebelum meninggal, simbah itu udah pesen sendiri semua perlengkapan untuk kematiannya. Dia ketempat penyewaan tenda, minta tanggal sekian di depan rumahnya dikasih tenda dan kursi, karena akan ada banyak tamu. Dia juga dah beli kain kafan sendiri. Dia datangi sendiri para tetangganya, minta bantuan kalo dia akan ada hajatan. Naaaaah.. pas Hari H dia meninggal yawis maklesss gitu, meninggal aja, tanpa sakit tanpa keluhan apa-apa. Itu si tukang tenda pada heran pas lagi masang tenda, ditanya oleh keluarga simbah, siapa yang mesen tenda tersebut. Si tukang tenda sekarang yang terheran-heran, laaaaah simbah sendiri yang seminggu sebelumnya minta hari ini rumahnya dipasang tenda dan kursi... tepat di hari kematiannya!”

Mas Darto penyiar Prambors Jakarta memanggil nama kami berdua, aku dan Mas Arief memulai talkshow siang itu... ini adalah Talkshow entrepreneur keliling Jawa yang digelar Radio Prambors.
--------------------------

Sebut saja namanya Jarot, 10 tahun lalu dia jagoan di daerah itu, Dia tetanggaku di salah satu kios Kedai Digital yang aku sewa. Badannya tinggi, kulitnya putih dihiasi beberapa tatto yang membuatnya tambah sangar. Setelah bercerai dengan istri keduanya dia memilih gaya hidup yang nyleneh, pembantunya adalah wanita-wanita dusun lugu yang gampang ditipu. Dua bulan sekali ganti, bosan dipulangkan. Sekali waktu yang dari kebumen hamil, akhirnya dia nikahi.. baru setahun dia dah bercerita padaku “wiss tak cerai mas, nggolek liane jik okeh!” hehe.. masih banyak wanita yang bisa dia mainkan. Seingatku ada 2 wanita lagi yang gantian jadi pembantunya. Sampai akhirnya yang dari Magelang ini hamil juga dan dia kawin untuk yang ke empat kalinya.. 

Siang itu aku ngobrol di depan rumahnya yang persis disebelah kiosku.. dia bercerita sesuatu.
“Eh mas, kemarin ada orang yang njelek-njelekin aku, daripada aku main kekerasan tak kerjain wae mas. Dia tak ajak makan sate klathak, tak traktir sampai kenyang. Dia dah ketawa-tawa gitu. Habis itu aku bilang, eh mas.. aku denger kemarin kamu njelek-njelekin aku to, naaah sekarang kan kamu dah kenyang, kamu ikut aku ke Parang Kusumo ya mas... biar aku keluarkan semua sate yang udah masuk ke perutmu itu. Hahahahaha.. mukanya langsung merah, dia sampai nyembah-nyembah minta maaf!!”
Aku ngakak gak karuan mendengar cerita Jarot, wong gendeng beneran!! Inilah hidup.. ada cerita menarik disana-sini. Aku selalu ingin bergaul dengan semua orang.. presiden, mentri, walikota, tukang becak, preman, bakul pasar, di mataku mereka sama..
Obrolan asik kami siang itu ditutup dengan omongan Jarot yang mengejutkanku..
“Mas Sap, aku ingin mati di umur 40 tahun nanti, gak usah lama-lama di dunia. Enak ki mati mudaaa, wiss gak usah mikir lainnya pas tua... hehe”

Beberapa bulan lalu aku mendengar ibunya Jarot sakit keras, 3 bulan di rumah sakit. Rumah dan kos-kosan milik ibunya dijual untuk membiayai rumah sakit yang habis 600 juta. Jarot seperti orang limbung.
Sekali waktu dia ketemu aku sambil tersenyum “sekarang aku ora neng masjid mas, aku rutin semedi neng gunung Klaten sana. Wong Islam sik ora brengsek ki ming koyo njenengan thok!”
Ada kekecewaan luar biasa dari nada suaranya, entah pada keadaan, entah pada Tuhan yang membangkrutkan lewat sakit ibunya. Dan aku tidak tau apakah dia akan mati tepat di umur 40 tahun nanti...
----------------------

Broadcast via Blackberry Messenger kadang di isi sesuatu yang gak penting sama sekali, kadang isinya cuma “sorry test contact” atau tawaran seminar cepat kaya mendadak dan jualan Cristal X...

Cuma kali ini ada broadcast yang menarik dengan bahasa kedokteran, kusimpan dalam noteku, lumayan untuk nambah koleksi..
Sesaat sebelum mati, kita akan merasakan jantung berhenti berdetak, nafas tertahan dan badan bergetar. Kita merasa dingin di telinga. Darah berubah menjadi asam dan tenggorokan berkontraksi.
- 0 Menit, Kematian secara medis terjadi ketika otak kehabisan supply oksigen.

- 1 Menit, Darah berubah warna dan otot kehilangan kontraksi, isi kantung kemih keluar tanpa izin.
- 3 Menit, Sel-sel otak tewas scr massal. Saat ini otak benar2 berhenti berpikir
- 4 sampai 5 Menit, Pupil mata membesar dan berselaput. Bola mata mengkerut karena kehilangan tekanan darah.
- 7 sampai 9 Menit, Penghubung ke otak mulai mati.
- 1 sampai 4 Jam, Rigor Mortis (fase dimana keseluruhan otot di tubuh menjadi kaku) membuat otot kaku dan rambut berdiri, kesannya rambut tetap tumbuh setelah mati.
- 4 sampai 6 Jam, Rigor Mortis Terus beraksi. Darah yg berkumpul lalu mati & warna kulit menghitam.
- 6 Jam, Otot masih berkontraksi. Proses penghancuran, seperti efek alkohol masih berjalan.
- 8 Jam, Suhu tubuh langsung menurun drastis.
- 24 sampai 72 Jam, Isi perut membusuk, mikroba & pankreas mulai mencerna dirinya sendiri.
- 36 sampai 48 Jam, Rigor Mortis berhenti, tubuh selentur penari balerina.
- 3 sampai 5 Hari, Pembusukan mengakibatkan luka skala besar, darah menetes keluar dari mulut dan hidung.
- 8 sampai 10 Hari, Warna tubuh berubah dari hijau ke merah sejalan dengan membusuknya darah.
- Beberapa Minggu, Rambut, kuku & gigi dengan mudahnya terlepas.
- Satu Bulan, Kulit mulai mencair.
- Satu Tahun, Tdk ada lagi yang tersisa dari tubuh. Kita yg sewaktu hidupnya cantik, gagah, ganteng, kaya dan berkuasa, sekarang hanyalah tumpukan tulang-belulang yg menyedihkan. Jadi, apa lg yg mau disombongkan org sebenarnya???                            
Sahabat,
Kita tak membawa apapun juga saat kita meninggalkan dunia yg fana ini...
Jadilah manusia yg bisa menjadi perpanjangan rahmatNya bagi sesama, jangan mempersulit hidup orang lain, apalagi berbuat jahat.. saling menghargailah..dan bantu sesamamu..

Pagi ini aku membaca koran, jadi headline tentang bau busuk bercampur bakteri yang ada di puncak Gunung Salak di lokasi jatuhnya Sukhoi kemarin, membuat para relawan harus hati-hati, foto-foto pramugari yang cantik dan wangi masih ada di banyak web saat ini. Mereka berfoto dengan narsis tampak gembira mencoba pesawat baru Sukhoi yang canggih. 
Dimana mereka sekarang, tidak ada lagi bau wangi parfum menggoda itu...
----------------------

Bandar Lampung, 6 April 2012
Semalam sudah kutunaikan tugasku. Mentoring Siswa Entrepreneur University hingga jam 10 malam, siang ini mas Herman mengantarku menuju bandara, kami sempatkan Sholat Jumat di Masjid Ar Rahman, Desa Natar, jalur dekat Bandara. Jamaah sudah antri mengambil wudhu, suara adzan pertama dikumandangkan, aku bergegas masuk duduk di barisan kanan.

Khatib hari ini berbicara tentang kematian,  gaya bahasanya unik, dia menyebut jamaah dengan sebutan “anda”, tutur bahasanya tegas dan lugas, aku dan jamaah lain seperti murid nakal yang sedang dihukum pak guru killer di depan kelas, sambil diacung-acungkan penggaris dari kayu panjang..

“Anda semua akan mengalami kematian, tidak perduli anda pejabat tinggi, artis terkenal atau kere di kolong jembatan, kematian akan mendatangi anda kapan saja dengan tiba-tiba..
Anda yang selama ini hidup di jalan Allah, melaksanakan perintahnya, menjauhi larangannya, Anda ketika akan mati dikirim malaikat yang lembut hatinya. Dia datang di samping anda dari sebelah kanan sambil membentangkan gambaran surga, sehingga anda bisa melihatnya. Saat ini anda tersenyum, anda justru ingin segera untuk masuk kesana. Bibir anda tersenyum simpul dan malaikat dengan lembut menarik ruh anda keluar dari tubuh. Atas izin Allah anda bahkan bisa tidak merasakan sakit sama sekali, ruh anda keluar disambut malaikat di kiri kanan, anda tersenyum bahagia luar biasa... sebaliknya orang-orang yang anda tinggalkan justru menangis penuh kehilangan..

Sementara Anda yang selama hidupnya justru berbuat maksiat, berbuat kejahatan, merugikan orang lain, disinilah siksaan anda akan dimulai. Malaikat maut datang dengan wajah hitam menyeramkan, dia muncul di sebelah kiri anda dan membentangkan gambaran neraka yang menyala-nyala. Mata anda akan terbelalak ketakutan, nafas anda tersengal-sengal dengan sakit yang amat sangat. Suara nafas yang keluar sampai di tenggorokan anda seperti suara binatang  yang sedang disembelih, dan ini membuat sanak saudara di sekeliling anda menjadi sangat ketakutan. Rasa sakit yang luar biasa itu hanya akan anda tanggung sendiri..
Anda yang selama hidupnya mengambil hak orang lain dengan korupsi, inilah saatnya anda merasakan pembalasan menyakitkan...

Anda yang jadi pegawai di kantor pajak, di kantor-kantor pemerintahan, dari kelurahan hingga dinas dan departemen, jika selama hidup anda mempersulit urusan orang lain soal pajak, uang tilep dan sogokan, urusan KTP dan surat tanah, semua dosa itu akan anda panen hari itu, mata anda akan terbelalak seperti akan meloncat keluar, anda akan ganti dipersulit menjelang kematian.. dan itu sangat menyakitkan..
Anda yang hobinya berzinah, mabuk-mabukkan, bermaksiat apa saja, hari itu anda pun akan menuai hasilnya, rasa sakit teramat sangat seperti 300 kali bacokan pedang diseluruh tubuh anda, tubuh anda akan gemetar hebat, anda tak ada bedanya dengan hewan yang bertemu ajal..

Jamaah sekalian...
Saya dan anda semua akan menemui kematian, anda bisa mati tenang di hari tua, atau anda bisa mati muda karena sakit, tertabrak kendaraan, dibunuh, jatuh, dan ribuan cara kematian datang menjemput anda. Kembalilah kepada Allah untuk dimudahkan pada saat kematian itu datang...

Khatib menutup khotbahnya yang berapi-api dan menusuk hati siapa saja...

Bandar Lampung panas sekali siang itu, BMW merah mas Herman meluncur ke Bandara.. Pesawat Garuda jam 2 membawaku pulang ke Jogjakarta...

Diketik di Jogja, dibaca dimana Sadja..
20 Mei 2012



Kamis, 01 Desember 2011

Para Pendamping Nabi...

“Aku dan orang-orang yang mencintai anak yatim seperti dua jari ini di surga nanti..” begitu kata kanjeng Nabi..

Jogja, 1985
Aku ingat sosok bungkuk berambut putih itu, jalannya cepat dengan kain jarik yang membalut tubuhnya, namanya Mbah Pawiro, orang-orang di desaku memanggilnya mbah Ro untuk menyingkat namanya. Di usianya yang sudah sepuh mbah Ro tidak pernah diam, dia masih sering keliling desa, ke sawah dan bertandang ke rumah tetangga. Rumahnya di barat desa sangat sederhana, hanya bangunan bambu dengan dinding dari gedeg (bambu anyaman) di semua sisinya. Kata ibuku mbah Ro putri ini dulu waktu muda adalah ledek (penari) yang  berkeliling dari desa kedesa, sampai akhirnya menikah dengan mbah Pawiro Kakung dan tinggal di desa ini. Mereka tidak memiliki anak, dimasa tuanya mbah Ro merawat 3 orang anak kecil yang ditinggal mati ibunya.. mereka piatu, sementara ayahnya jadi duda yang tidak bekerja. Tiga anak inilah yang tiap hari dimandikan, diberi makan oleh mbah Ro.
Hari menjelang magrib, Bapakku yang tugas jadi tentara di Jakarta hari ini pulang ke desa, bapak jadi orang yang dihormati di desa waktu itu, tentara yang pulang dengan seragam hijaunya, para tetangga sering menyapa jika bapak pulang... “ooo Pak Ratno sampun kundur..”
Mbak Pawiro datang kerumah sore itu, dengan badan bungkuknya dia bertemu dengan bapak di ruang tamu, aku mendengar percakapan mereka.
“duuuh Pak Ratnooo.., kulo nyuwun tulung nek wonten beras kagem putu-putu kulo, niki sek esuk dereng kelebon sekul...” mbah Pawiro nembung beras untuk tiga anak yang diasuhnya itu. Suaranya mengayun menghiba mohon belas kasihan, Bapak memberi beberapa lembar uang ribuan yang cukup untuk membeli beberapa liter beras waktu itu, Mbah Pawiro menghujani dengan ucapan terimakasih yang tercecer-cecer hingga ke jalan...

Selasa, 22 November 2011

Gadis Mungil Di Dalam Panci...

*titipan tulisan dari www.sedekahrombongan.com

Aku Saptuari, ijinkan aku menulis sendiri kisah dramatis ini...

Tiga bulan lalu...
Sebuah rumah di dusun Plaosan, Prambanan Klaten, berjarak 3 Kilometer dari Candi Prambanan Jogja sedang ada acara hajatan sunatan, di dapur mereka sibuk memasak makanan untuk para tamu, sebuah panci besar penuh gulai baru saja diturunkan dari kompor, masih panas mendidih mematangkan daging kambing itu. Anak-anak kecil bermain berlarian di sekitar tempat memasak itu, mereka kejar--kejaran penuh keriangan... seorang anak berlari gembira dikejar kawannya, dia berlari mundur tanpa sadar ada panci mendidih di belakangnya... BYURRR GGGRRRHHHHH!!!
Tubuh gadis mungil itu masuk ke dalam panci yang masih membara, bagian bokongnya masuk duluan, diikuti hampir seluruh tubuhnya. Gadis mungil itu menjerit menahan panas luar biasa....menggelapar dan menjerit kesakitan..
Namanya Rara Ainunnisa, anak tunggal pak Jayadi seorang buruh pembuat tahu. Gadis 5 tahun yang masih sekolah di TK itu kami temukan hari minggu lalu...

Rara kami temukan meringkuk dan menangis dengan badan penuh luka bakar bernanah..

Sabtu, 15 Oktober 2011

Sandal Jepit Untuk Simbah...

Ketika aku hanya punya dua tangan untuk berbuat kebaikan, Gusti Allah yang Maha Kaya mengirimkan jutaan tangan untuk mengangkatnya...
                                                                                   
GOR Universitas Negeri Yogyakarta, November 2010
Gedung itu masih baru, harusnya bau cat masih ada sisa di beberapa sudut ruangan, Tapi malam ini berganti dengan baru menyengat dari ribuan kaki basah, bau baju yang penuh keringat, sisa makanan yang tak sempat ditelan teronggok di pojokan. Pengungsi dari lereng Merapi berduyun-duyun mengungsi ke hall ini. Ketakutan dimangsa api yang berlari kencang sekali. Seribu orang lebih dari beberapa dusun yang ada di lereng Merapi menempati gedung olahraga ini. Banyak yang tidak sempat membawa barang-barang yang mereka miliki.. mengungsi atau mati.

Selasa, 27 September 2011

Kanjeng Nabi..

saatnya belajar berterimakasih kepada Sang Pencerah kehidupan…

Komentar di yahoonews ini semakin gak karuan. Semua hal jika ada isu sensitif langsung deh dihubungkan dengan SARA. Berita soal walikota yang poligami ujung-ujungnya nyerempet Nabi. Hotnews soal bom bunuh diri, Nabi ikut disalahkan dan dibenci. Semua jadi debat kusir, caci mencaci, ancam mengancam, dan ujung-ujungnya nol besar. Pada menghilang tanpa penyelesaian dan kesimpulan. Berdebat di dunia maya benar-benar seperti melawan JIN AIPRIT! Gak jelas yg kamu debat dan kamu lawan. Bisa jadi orang yang paling keras mendebatmu adalah tetangga depan rumahmu yg pakai nama palsu... emosi terpancing untuk sesuatu yang gak penting. Semua berlagak pintar dan jadi yang paling alim tanpa tanding.


Sabtu, 17 September 2011

Sedekah (tak) Berbalas...

Ketika kita mulai sombong hitung-hitungan dengan Tuhan...


Banda Aceh, 2010
Malam itu selesai sudah mentoring yang aku lakukan untuk Entrepreneur University di dua kota, Medan dan Banda Aceh. Hari sudah larut malam, peserta kelas itu ternyata bukan hanya asli dari Nangroe Aceh, banyak juga orang Jawa.. kami sempatkan untuk foto-foto bersama, setelah rentetan pertanyaan kuselesaikan semua... Aku kembali ke kamar hotel, badan penat penuh keringat, 3 jam lebih mulutku berbusa-busa untuk mentoring ini.
Ketika aku sedang merebahkan badan sebuah SMS masuk. "mas Saptu, maaf ya untuk fee mentor dan biaya tiket pesawat belum bisa kami transfer malam ini.. secepatnya kami kabari.. trimakasih"

Sabtu, 10 September 2011

Tabungan di Kuburan

"Hartamu yang tidak pernah habis adalah yang kau belanjakan di jalan Allah" begitu kata pak Guru.

Jatinom Klaten, 9 September 2011
Hari sudah rembang petang, matahari sudah memancarkan sinar orange berkilau di horison barat. Kupacu mobilku menyusur jalan di pedalaman Klaten itu, dari Salatiga menuju Jogja. Aku belum sholat Ashar, Ibu dan Istriku sudah menjamak sholatnya di Salatiga tadi. Ada sebuah masjid kecil dipinggir jalan, kebutuhan ini harus kutunaikan. Aku sholat di pendopo luar masjid yang sunyi itu.. selesai di rakaat terakhir aku tercenung dengan apa yang ada di depanku, sebuah kotak infak yang berbentuk seperti batu nisan kuburan. Bentuknya yang unik seolah-olah mengingatkan jamaah, "hayooo nabung, ini yang akan menemanimu di kuburan nanti"

Minggu, 04 September 2011

Mushola di Pojok Desa

Ketika kita disadarkan bahwa Tuhan begitu dekat dengan kita, bahkan kita bisa memanggil-Nya dalam nafas satu helaan...

Jogja Mei 2006...
Bumi tiba-tiba bergemuruh pagi itu, suaranya seperti auman yang mengerikan. Kayu-kayu atap rumah berderak-derak dengan keras, saling menghantam kiri dan kanan. Aku langsung melompat dari tempat tidurku. Lantai rumah yang kupijak seperti dek kapal dihantam gelombang. Dengan terhuyung-huyung aku keluar rumah nyaris terjerembab di tengah jalan. Orang-orang berlarian, berteriak ketakutan. Nama Tuhan bersahutan diteriakkan. “KRAK... KRAK.. BUMM!!!” aku menoleh ke kiri, mushola tua itu seperti menemui ajalnya. Atapnya lepas satu persatu, tembok kiri kanan saling cerai berai, melepaskan diri ke berbagai arah jatuh berdentum menimpa bumi.

Selasa, 28 Juni 2011

Jarum Pentul Bu Mar

Ketika kejujuran menjadi mahal harganya, orang-orang sederhana menunjukkan caranya dengan cara yang sangat biasa...

Warung sambel mbak Sasa, Desember 2009..
Es lemon tea yang ada didepanku tiba-tiba rasanya jadi pahit luar biasa, tambah lama tambah pahit. Dua orang karyawanku yang aku introgasi siang itu menunjukkan bukti-bukti kuat bahwa ada satu managerku yang tidak jujur. Ada satu cabang usahaku yang lost kontrol dalam 3 bulan, omzet yang tinggi tidak dibarengi dengan profit yang maksimal. Akhir tahun ini aku langsung minta diaudit bagian keuangan, dan dugaan penyelengan dana itu memang ada.

Minggu, 19 Juni 2011

Gusti Allah Sutradara Paling Ciamik!!

"kadang kita tidak sadar sesuatu telah dipersiapkan oleh Tuhan sampai kita tergagap-gagap menyadarinya.."


Klaten, Oktober 2009..
Es krim yang dingin dan padat menemani para jamaah yang memenuhi tenda itu, hari ini adalah pengajian pelepasan haji pak Riyanto dan bu Nur, pengusaha beras paling sakses se Klaten raya. Mereka saudara dari bapak mertuaku. Ustad Jadmiko yang didapuk memberikan tausiyah bercerita sebuah kisah nyata tentang tukang becak yang naik haji, ketika Allah berkehendak maka semuanya dimudahkan, dari jalan yang tidak disangka-sangka.. Min haiztsu la yah tasib..