Thursday, December 18, 2014

Ka’bah Untukmu..

Menemukan Tuhan setiap penjuru bumi, menghadirkan-Nya di setiap relung hati.. kapan saja, dan dimana saja… karena Dia ada dimana-mana..

                Mushola kecil itu ada di ujung barat desa. Waktu aku masih SD kelas satu aku ingat betul mushola itu menjadi satu-satunya tempat ibadah warga desaku. Tahun 1985 listrik belum ada disana, warga sholat ditemani dengan lampu minyak yang penuh jelaga. Tidak ada microphone dan speaker untuk mengeraskan suara imam. Satu ketika aku ingat momen ketika sholat disana, di waktu Magrib saat hujan turun, kami sholat berjamaah, suara mbah Amat masih gagah melantunkan Al Fatehah, hempasan air hujan masuk melalui celah genting yang rapuh, angin yang lewat membuat api lampu minyak menari-nari, bayangan kami pun seperti menari di tembok sebelah kiri.
                Sebuah momen yang eksotis…  saat itu aku masih kecil, belum tau bentuk ka’bah yang setiap sholat kami jadikan arah. Mbah Amat hanya mengatakan, “sholat itu menyembah Allah, Tuhan yang menguasai alam semesta, kita tidak menyembah ka’bah yang ada di Mekah. Ka’bah adalah simbol rumah Allah, yang menjadi arah qiblat sholat seluruh umat manusia agar tertib dan rapi menuju satu tujuan…”
                Sampai sekarang mbah Amat masih menjadi imam, badannya sudah bungkuk, namun setiap adzan berkumandang dia selalu pertama yang datang. Kakinya belum pernah menginjak halaman Ka’bah, namun bangunan yang sering dilihatnya di tivi itu sudah menancap di hati.. dijaganya setiap hari hingga nanti waktunya mati..

----------------------
                Waktu SMP di Jakarta 1992, pernah aku sekolah yang jam belajarnya dimulai jam 1 siang hingga 5 sore, ada sebuah mushola satu-satunya di sekolahku, setiap istirahat jam 3 mushola itu dipenuhi siswa yang sholat Ashar. Seluruh sudut mushola itu dilapisi karpet, tapi entah mengapa bagian kebersihan sekolah tidak terlalu memperhatikan kebersihannya. Bagian pintu masuk karpetnya sering basah, mengundang bau yang tidak sedap, ketika puluhan  kaki basah bercampur dengan keringat bersatu di karpet pintu masuk itu.

Saat SMP dulu, sholat masih dipantau pak guru..

                Sering kali setiap sholat jika seminggu karpet belum dikeringkan baunya sampai tercium hingga ke depan. Aku yang ada dibelakang imam pun kadang menciumnya. Waktu itu aku sudah tau foto-foto Ka’bah yang aku lihat di buku pelajaran agama. Bayangannya mulai aku hadirkan setiap aku sholat… Ka’bah yang agung dengan jutaan orang yang tawaf mengelilinginya. Walau dari sudut mushola kecil di sekolah yang karpetnya berbau tak sedap. Aku coba hadirkan Allah yang Maha berkuasa, entahlah kapan aku bisa berangkat sholat di depan Ka’bah yang jauuuuh disana…



-----------------------
                Subuh di wilayah Negare, Bali 1998. Mobil yang kami pakai untuk survei lokasi KKL itu berhenti usai antri menyeberang pelabuhan Gilimanuk dini hari tadi. Udara yang menusuk tulang, bukan jadi penghalang saat subuh menjelang. Wilayah Bali bagian barat itu masih banyak penduduk yang beragama Islam, mushola masih ada di beberapa titik di jalur utama menuju Denpasar.
                Bergegas kami berlima turun dari mobil, ngantuk mulai menyerang namun kewajiban ini harus ditunaikan. Mushola itu sunyi di subuh hari, hanya ada tiga orang yang bersiap untuk sholat subuh, kami segera bergabung mengambil saf satu-satunya di depan. Aku bayangkan Ka’bah yang jauh disana, arah qiblat yang pagi itu jadi patokan seluruh muslim menghadap wajahnya untuk sholat mengarah kesana.
                Sayup-sayup tembang mantra Hindu Bali mengalun kejauhan, suaranya begitu magis, menerobos pohon-pohon sunyi di pagi hari… dan aku tidak paham artinya.
                Kami tertidur di mobil usai sholat subuh itu, sampai semburat matahari pagi membangunkan kami. Mobil keluar dari halaman mushola, berjalan pelan menuju Denpasar. Di sudut jalan ada plang bertuliskan “tersedia babi guling”  dengan gambar babi gemuk warna pink yang lucu dan menggemaskan…

Adi, Firman, dan aku.. subuh hari mencari musholla di Pulau Bali


-----------------------
                Perbukitan Bayat Klaten, tahun 2000 yang panas. Kelompok KKL Kuliah Kerja Lapangan kami diberi tugas menghitung tinggi bukit, dan mencari jalur paling cepat menuju titik yang telah ditentukan. Sejak pagi kami membawa waterpass, yalon, theodolit, alat-alat yang biasa digunakan di ilmu ukur tanah. Bayu yang ada di depanku tampak kelelahan, wajahnya yang hitam bertambah semakin legam siang ini. Kawan kuliahku yang kelak kukenal sebagai ahli kelautan yang sering berbicara di forum seminar.
Masih ada satu bukit lagi yang harus kami ukur, melewati jalan berbatu, menembus rumah-rumah sederhana di dusun itu.
Siang semakin panas, adzan dzuhur berkumandang dari mushola di bawah sana.
                “ayo yu.. Sholat dulu.. “ kataku
                “ayok sap, di atas ada pancuran air tadi aku lihat” jawabnya
                Ada sebuah gubuk kecil di atas bukit ini, kanan kirinya terhampar tanaman kebun yang ditanam para petani, dari singkong, ketela, cabai.. gubuk ini jadi tempat istirahat mereka ketika menggarap ladangnya.
                Air yang sejuk ditengah panas matahari, menyiram dahi, telinga, hidung, tangan dan kaki.. seluruh wajah terbasuh, keringat lepas satu-persatu.
                “Allahuakbar…” Sholat kami mulai
                Aku hadirkan Ka’bah di bukit itu, seolah ada di depan mataku. Menghadap Allah dimanapun berada, menghadirkan sang pencipta yang sampai siang ini mengijinkan aku menghirup udara bebas sebanyak-banyaknya.
Praktek Lapangan melelahkan, bukan alasan melupakan Tuhan..

----------------------          
                Pulau Samalona yang indah di tahun 2009, butuh 45 menit perjalanan dengan perahu dari kota Makassar Sulawesi Selatan. Jika mengingat pulau ini pasti generasi 90’an pasti inget lagu almarhum Imanez, Samalona Beach.. Satu dari cintaku jadi milikmu.. reage slow yang melodius.
                Usai event wirausaha mandiri di Makassar aku dan kawan-kawan memutuskan untuk ke Pulau Samalona. Menurut kawan disana pulau ini begitu indah dan tenang, cocok untuk sekedar snorklingatau berjemur di pasir pantainya. Ada beberapa rumah warga yang jadi pengelola disana. Semua serba tradisional, belum ada campur tangan pemda untuk menggarap potensi wisatanya.
                Dengan dua perahu kami meluncur menuju ke sana pagi itu, Samalona menyambut kami dengan pasir landai, ombak yang tenang serta langit biru tak berbatas. Tak perlu dikomando, usai perahu merapat langsung kami berebut alat snorkling, lalu berebutan menceburkan diri ke laut  biru.  Ikan-ikan berebut roti yang kami sebarkan, di pinggiran pantainya saja ikan-ikan sudah bermunculan tanpa kami harus memakai perahu dan bergerak ke tengah. Mengapungkan badan ke atas serileks mungkin sambil memandang langit, membuat siapapun yang datang kesini bisa terobati semua kejenuhan di hati.

                “hoi sekarang hari jumat lho… istirahat dulu yuk! Jumatan” ajak Hafiz               
                “ooo iya, ada masjid gak ya disini?” jawabku
kami beranjak ke tepi, mandi bergantian lalu berjalan masuk ke dalam lokasi rumah-rumah penduduk, ada sebuah mushola kecil dan satu-satunya di sana,dindingnya kusam dengan karpet yang sudah menua. Bersama beberapa warga kami langsung berjamaah sholat jumat, ada sekitar 40an orang sehingga sebagian sholat dengan menggelar tikar di luar. Jika harus sholat di masjid yang besar warga Samalona memang harus menyebrang ke Makassar, hingga keberadaan mushola ini jadi tempat berkumpul setiap hari.
                Suara ombak mengalun bersama air yang tenang, angin semilir berhembus hingga ke dalam mushola. Sesekali kicau burung laut terdengar.. begitu tenang tempat ini. Kuhadirkan Ka’bah di depan mata, membuat link kepada Allah yang Maha Kuasa. Ditempat yang jauh dan terpencil ini kami sholat dengan nyaman, tanpa ada desingan peluru dan rudal yang mengganggu..
Sore hari kami pamitan untuk kembali ke Makassar, seorang ibu menerima uang yang aku bayarkan untuk ikan-ikan bakar yang tadi kami makan.
“Bapak-bapak ini asalnya dari mana ya?” tanyanya polos
“saya dari Jogja bu…” jawabku
“waah.. saya pengen sekali bisa kesana..” sahut si ibu dengan wajah tersenyum,
tapi di Jogja tidak ada pulau dengan pantai setenang ini bu…


Mushola mungil di Pulau Samalona

-----------------------
                Bukan sekali waktu aku dan kawan-kawan pergi ke tempat diving, pulau yang harus di tempuh dengan perahu. Bunaken di Manado dan Gili Air di Lombok pernah kusinggahi. Tempat-tempat yang jauh dari keramaian, tenang dan menghanyutkan sekaligus penuh godaan syaitan. Jika terlalu asik mengapung di atas air hingga berjam-jam kadang lupa bahwa waktu sholat telah di terjang.
                Ketika di Bunaken sangat susah menemukan mushola, kami mencari ruangan kecil di depan ruang ganti untuk bisa lapor diri di depan Illahi. Sementara di luar ruangan anjing pemilik perahu bebas berkeliaran. Mondar mandir dari halaman rumah hingga nangkring di atas batang bakau di pinggir pantai.
                Begitu juga di Gili Air, satu dari gugusan Gili (pulau) di Lombok sisi barat itu. Warung-warung kecil yang ada di sepanjang pantai dipenuhi bule-bule yang santai dengan botol beer warna hijau di tangannya. Ada sebuah pondokan sepi yang kami pakai untuk sholat, di terasnya ada tikar lusuh yang kami jadikan alas. Ku hadirkan Ka’bah saat itu, setor wajah dan absen diri pada Illahi Robbi. Suara bule yang berteriak-teriak di pantai sungguh mengganggu suasana, mungkin dia baru saja di ceburkan paksa oleh kekasihnya.




--------------------
                Pantai Lampuuk di wilayah Aceh Besar, selatan kota Banda Aceh sudah kembali pulih usai bencana tsunami 2006 lalu. Wilayah itu luluh lantak, ribuan nyawa melayang disana, hanya 700an jiwa yang selamat. Sore ini aku menginjak pasir di pantai itu, matahari menjelang tenggelam. Seandainya aku membayangkan saat itu tsunami datang setinggi pohon kelapa, maka hidupku mungkin berakhir disini. Walau sudah empat tahun berlalu, aura kengerian masih tergambar. Pak Amir mengajakku untuk sholat Magrib  di masjid Rahmatullah, masjib bantuan dari pemerintah Turki yang dibangun tahun 1997, jauh sebelum tsunami terjadi. Kami melewati hutan kecil, tanaman yang rimbun di sana-sini, jalan masuk perkampungan yang penuh pepohonan. Hingga di ujung jalan masjid megah itu berada. Masjid yang besarrr.. jika ada di kota propinsi bisa dikira sebagai masjid Agung yang bisa menampung 2000an jamaah sekaligus.
                Masjid ini adalah bangunan yang tersisa di daerah itu karena tsunami. Bangunan lain tak bersisa sama sekali, foto Masjid Rahmatullah yang tetap berdiri di tengah2 bekas hantaman tsunami banyak beredar di internet. Masjid yang ajaib, Allah seperti menyisakannya sebagai pesan untuk umat manusia.
                Kuambil wudhu, lalu bergabung dengan dua saf yang berbaris di bagian depan. Ka’bah aku hadirkan di pelupuk mata, mengarah ke satu tujuan Lillahitala.. Kekuasaan Allah meliputi langit dan bumi, mudah bagi Allah menjaga bangunan ini utuh dihempas gelombang yang sangat tinggi.
                Imajinasiku pun melayang tinggi, takbir demi takbir, rakaat demi rakaat, seolah air yang deras mengantam di kanan kiri bangunan masjid saat itu. Aku dan dua saf jamaah ini seolah tidak terganggu, karena aku yakin hanya Allah lah yang menjaga segala sesuatu..

Masjid Rahmatullah di Lampuuk yang utuh ketika dihajar tsunami


--------------------
Hongkong International Airport, 2012
                Usai sudah acara empat hari yang kami ikuti di Macau, aku dan empat orang kawan dari Wirausaha Muda Mandiri mengikuti Asia Pacific Entrepreneur Forum disana. Tidur di hotel mewah yang bawahnya penuh casino, tiket pulang pergi gratis semua dijamin. Gayanya pas disana foto di depan casino, sementara penjaganya yang berbadan besar memakai jas dan dasi kupu-kupu melirik kami penuh curiga… hehehe
                Pagi itu kami cekout dari hotel di Macau, lalu lanjut dengan jetboat, kapal ferri cepat menuju Hongkong. Dua negara berbeda yang akan bergabung penuh dengan RRC nantinya. Macau jajahan Portugis dan Hongkong jajahan Inggris, walaupun sudah di kembalikan ke RRC namun sistem administrasi negaranya sangat berbeda, mata uangnya pun berbeda. 
                Di bandara megah Hongkong itu kami celingukan, mencari tempat untuk sholat. Mushola tidak ada.. apalagi masjid hanya angan-angan belaka.
                “Mas, kita sholat di sini aja yuk.. dalam kondisi darurat diperbolehkan kok..” kata Elang
                “Oke.. yuk jamaah saja disini, biarin dilihatin orang.. hehe” kataku
Akhirnya kami sholat bersama sambil duduk, mengambil arah mendekati kiblat melalui petunjuk kompas di handphone. Ini negeri antah berantah yang tidak mengenal agama kami, bahkan banyak yang tidak mengakui adanya Tuhan dalam hidupnya, atau masih menyembah patung yang dianggap Tuhan dalam budaya mereka. Lakum dinukum waliadin.. Bagiku agamaku, bagimu agamamu. Kuhadirkan Ka’bah di ujung mata, menghadap satu titik untuk menembus langit.   Hari ini kami jauuuh dari rumah, jauuuuh pula dari Ka’bah.. namun yang aku sendiri yakini, Allah tetap hadir disini.  Tanpa ijin Nya pesawat besar di luar kaca itu tak akan sanggup menyebrang lautan untuk mengantar kami pulang.      


Hongkong Airport, sholat di ruang tunggu tanpa musholla
-------------------               
                Maret 2013…. Mekah, bumi para Nabi…
                Mataku aku kedipkan berulang kali, Ka’bah ada di depan mataku. Benar tepat di depan mataku, bukan lagi seperti yang aku bayangkan sejak kecil dulu, angan-angan sebuah bangunan yang dibangun oleh tangan para Nabi, yang dulu hanya aku lihat di foto dan di buku, kini benar-benar ada di depanku.
                Empat hari sudah aku di Mekah, ini adalah tawah wada.. tawaf perpisahan. Nanti usai Dzuhur kami harus bergerak menuju Jeddah, malam hari pesawat besar membawa kami untuk pulang.
                Kulangkahkan kaki di halaman Ka’bah, pagi yang cerah, suasana sunyi tidak seramai biasanya. Hamparan halaman Ka’bah yang putih, hanya ada jamaah di beberapa sudut, serta sebagian tawaf tanpa terlalu  berdesak-desakan. Kemana jamaah yang kemarin menyemut itu? Kemana puluhan ribu manusia yang kemarin berebut memegang Ka’bah itu?


Kabah yang sunyi pagi itu.. passs di depan wajahku!
                Aku mengambil posisi memulai sholat Dhuha, hari ini ku tuntaskan 12 rakaat, kupuaskan di depan Ka’bah langsung, di tempat dulu para Nabi juga berdoa, ditempat jutaan manusia datang dari seluruh penjuru dunia.
             Pagi ini Ka’bah seperti untukku… Allah seperti memberi ku hadiah di saat perpisahan ini. Sholat pagi itu begitu aku nikmati, terbayang semua tempat yang sudah kuinjak, kujadikan tempat sholat. Tanah dimana kuratakan dahiku, sebagai bentuk takhlukku padaMu.
             Setiap gerakan aku nikmati, terbayang ketika aku menggambarkan bentuk Ka’bah dalam angan-angan di awal belajar sholat di mushola tua. Ketika Ka’bah aku hadirkan di sebuah bukit, di pinggir pantai, di lereng gunung, di mushola sempit di gang kumuh, atau Ka’bah yang aku bayangkan ketika sedang sholat di atas ketinggian dalam balutan pesawat yang melaju cepat, Ka’bah yang aku bayangkan ketika sholat di kapal Ferry saat melintas selat Bali. Semua seperti film yang diputar kembali, perjalanan panjang seorang manusia lemah yang hanya menyembah pada Illahi Robbi.

             Tawaf wada sudah aku tunaikan, ratusan doa sudah aku panjatkan, saatnya untuk meneruskan perjalanan, kulambaikan tangan pada bangunan yang kelak akan hancur yang terakhir kali di saat hari kiamat nanti.

             “Wahai Allah Tuhanku… aku pamit pulang hari ini untuk melanjutkan hidupku… melanjutkan tugas dariMu agar aku terus beribadah hingga akhir hayatku, meneruskan pesan kanjeng Nabi agar aku mencapai tujuan paling mulia menjadi manusia yang bermanfaat untuk sesama.
Wahai Allah Yang Maha Pengampun.. ampuni seluruh hidupku, penuhi hati ku dengan rindu tak berkesudahan hanya kepada-Mu, sayangi aku dalam langkah yang penuh dengan rahmatMu setiap saat setiap waktu…
Wahai Allah Tuhanku..
 ijinkan aku nanti melihat Ka’bah Mu lagi…”

Mekah Al Mukaromah… hari ini aku pamit pulang ke rumah…

Semoga Allah kelak juga menjadikan Ka’bah untukmu..
Jogjakarta 15 November 2013









24 comments:

mustaghfiron said...

yes, saya pernah jamaah bareng mas saptuari waktu nengok pasien SR di Masjid. "ayo sholat sik to cah" dengan nada khas mas saptuari. Tulisan ini apa adanya, memang seperti itu mas saptuari sehari-hari.

Doni said...

Nomer loro ding. Kangen tulisane njenengan mas

ONY EFENDI said...

sehat selalu mas sap biar lebih sering posting. like it

cat lantai said...

semoga barokah rizkinya mas

Kayu Batik said...

masing2 daerah memiliki keistimewaan masing2..subhanallah..semangat religius yang begitu tinggi

Akmalia Syarifa Dewi said...

kemarin baru ikut seminar enterpreuner muda, terus sama narasumbernya dikasih tau tentang SR,aku cari dech di internet,,,eh,,,ketemu blognya mas sap..keren deh pokokny,,bukan hanya sekedar enterpreuner tp jg motivator sekaligus pahlawan buwat orang2 sekitar....

cincin kawin said...

semoga tahun ini bisa ke baitullah sepertimu mas saptu

angkisland said...

aamiin semoga segera berjumpa dengan baitullah..... dan allah..aamiin

obat herbal bopeng di wajah said...

postingan yang menarik..

obat herbal sipilis said...

blog yang berkualitas
terimakasih telah berbagi

obat herbal kanker kandung kemih said...

artikel yang berkualitas

obat herbal glaukoma said...

sangat menginspirasi
liked

Obat Darah Tinggi Alami said...

saya juga kepengen ke baitullah...

obat herbal fistula ani said...

postingan yang berkelas

Anonymous said...

Kepada pak saptuari yang saya hormati.

Mohon maaf saya menyampaikan hal ini melalui comment blog, karena tidak ada media lain yang bisa saya gunakan untuk menghubungi anda. saya salah satu kurir pada gerakan yang anda buat, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan:

1. pada saat dokumentasi pasien, apakah pasien memiliki hak untuk menolak ? jika iya, bagaimana informed consent yang semestinya kurir lakukan ?

2. kemudian apabila pasien menolak untuk di dokumentasi, lalu bagaimana cara transparansi dan memberi bukti kepada para sedekaholic bahwa sedekahnya telah tersampaikan ?

3. karena berdasarkan undang-undang kesehatan, kode etik kedokteran dan kode etik rumah sakit, dokter dan Rumah Sakit wajib merahasiakan penyakit pasien, kemudian masalah dokumentasi tersebut, pasien harus memberikan informed consent lalu barulah boleh di dokumentasikan.

4. namun fenomena yang saya lihat, para kurir tidak melakukan informed consent dengan benar, kemudian menyebarkan foto, identitas pasien dan penyakit pasien tanpa sensor atau insial, hal ini sangat melanggar privasi pasien pak.

5. jadi saya harapkan sistem kurir ini dapat diperbaiki segera, kemudian saya pernah membicarakan hal ini dengan salah satu koordinator kurir, beliau mengatakan sudah ada 11,000 pasien yg ditangani dan tidak menolak, dan beliau juga mengatakan SR sudah mendapat ACC dari dinkes nasional, kemensos, dan sudah berkonsultasi dengan kepala humas rs se indonesia

6. yang ingin saya tanyakan lagi, apa yang di ACC ? apakah ijin untuk dokumentasi atau apa ? mohon hal ini dapat di clear kan, karena ini merupakan hal yang sangat penting, kemudian koordinator yang saya ajak diskusi ini juga mengatakan, di SR nasional juga banyak dokter kok, jikalau memang banyak dokter, mengapa hal sepele seperti privasi pasien ini tidak dibenahi kalau memang banyak dokter ? saya tahu pasti, dokter selama kuliah juga diajarkan tentang kode etik dan hukum kesehatan, semestinya hal ini dibenahi

Model Baju Batik Muslim said...

Masih kecil nya Kurus banget, beda dengan sekarang sudah jadi bos bessar :)

iman said...

trimakasih infonya...
sangat menarik dan bermanfaat...
mantap deh pokoknya...
kunjungi balik yah nonton flim online di: http://inibos.com

ed har said...

alhamdulillah...aku suka ini postingan mas saptuari

harga dji phantom said...

Blog yangbermanfaat mas, saya terinspirasi dari penampilan mas dikick andy. Kebetulan saya juga maih kuliah. jadi lebih berxemangat nih untuk memulai usha sendiri

Redi Prana said...

Mas sugiarto saya suka tulisan,saya ingin belajar sama mas,boleh ya

bayu prasetyo said...

Subhanallah..mbrebes mili mas baca tulisan ini...semoga mas saptuari sak keluarga sehat slalu,dimudahkan,ditambahkan rezeqinya dan mendapat keberkahan..Aamiin..
Maturnuwun mas...tulisan2 di fb dan disini joss tenan...

Mohamad ihsan Suryanegara said...

Rindu Ka'bah.... semoga Alloh SWT memberikan kesempatan untuk mengunjungi tanah suci... Sangat inspiratif sekali mas saptuari. Barakalloh

Properti Islam said...

Mantap mas Saptu, semoga terus bisa menebar manfaat

Cumi satu cumi said...

Subhanallah semoga bisa menyusul ke Baitullah, Aamiin.


Ijin Share mas CERITA ISLAMI MASA KINI