Sabtu, 29 November 2014

Doa Para Waria

Yang kutahu semua yang ada di bumi adalah ciptaan Allah.. termasuk manusia, apakah dia pria, wanita, atau gabungan dari keduanya. Dan aku yakin, mereka semua berhak berdoa pada Tuhannya.

Wates, Kulonprogo 1995
            Kereta ekonomi Empu Jaya yang membawaku dari Jakarta sejak kemarin sore ini jalannya seperti keong gemuk yang sedang bunting. Lambaaat sekali! Kereta ini juga rajin silaturahmi, tiap stasiun kecil pun dia berhenti, mungkin masinisnya wajib menyapa dengan penjaga stasiun kecil itu, mereka mengobrol lima sepuluh menit, bahkan setengah jam… barulah kereta ini berjalan lagi… brrrr!!!
            Sudah jam 9 pagi, berarti sudah 16 jam aku di kereta ini. Bau keringat menyeruak di semua gerbong, kamar mandi tidak ada air, pesingnya bisa membuat dinosaurus pun muntah jika masuk ke dalamnya. Udara panas luar biasa, tidak ada kipas angin yang menyala. Suara tangis bayi bersautan disini dan disana.. sementara sang ibu kewalahan menenangkannya.
            Suasana semakin meriah dengan kehadiran mereka, empat orang waria dengan dandanan bak artis dangdut ibukota paling cantik sedunia! Bibir merah dan menor, bulu mata lentik, wig warna warni, rok mini dengan stocking warna ngejreng, serta bau minyak nyong-nyong yang baunya nyegrak luar biasa.
“Selamaaatt pagi mas-mas yang ganteng semua, ijinkan kami menghiburrr anda semua biar pagi ini gak loyo lagi! Ayo maaasss.. werrr ewerrr ewerrr…” seru yang paling jangkung menyapa.
Lalu dengan cueknya mereka menyanyi tak ewerrr eweerrr dengan vulgarnya, bergoyang mengikuti suara kicikan dengan sesekali bibir dimonyongkan. Satu orang mendekati para penumpang, mengulurkan sebuah kantong plastik bekas permen, berjalan dari kursi-kursi. Yang memberi diucapkan terimakasih, yang tidak memberi disambar dengan kata-kata, “mbok dadi uwong ojo pelit-pelit masss…”dengan suara mengalun sinis.
Seorang penumpang yang memberi uang lembaran diberi bonus dengan towelan manja di janggutnya. Yang ditowel langsung mengibaskan tangan mungkin karena jijiknya. Suasana semakin rame, ada yang tertawa.. ada yang mencaci di sela ucapannya.

      
                                          From: http://khodijah-nazwa.blogspot.com/2012/09/semangat-hidup-kaum-transgender.html

Suara peluit kereta berbunyi! Mungkin masinis dan penjaga stasiun sudah selesai ngopi, kereta ini mulai berjalan lagi. Ke empat waria yang sudah ada di ujung gerbong berhamburan melompat keluar sana. Yang terakhir melompat sempat berkata dengan lantangnya:
“terimakasih buat mas mbak bapak ibu semua, yang udah ngasih saya doakan masuk surga.. yang gak ngasih masuk neraka.. dadaaaaa”
dan tubuh kekarnya langsung melompat keluar kereta, wig yang dipakainya nyaris lepas, untung tidak ada penumpang yang melempar botol dari atas.. kena kepalanya bisa bablas!

Satu jam kemudian kereta ini sampai di stasiun Tugu Jogja, setelah 8 tahun aku sekolah di Jakarta, hari ini aku kembali menghirup udara Jogja untuk melanjutkan ke SMA. Tiga tas yang penuh baju dan buku begitu membebaniku, di kota inilah akan ada ribuan kisah yang mengharu biru..