Rabu, 07 Agustus 2013

Ramadhan terakhir

"Demi masa, manusia benar-benar dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati untuk mentaati dalam kebenaran.." (QS-Al Asr)

2006
Tayangan di TV itu membuatku tertegun, dengan berlinang air mata Taufik Savalas tersedu-sedu ketika diwawancara wartawan tentang kegiatannya selama Ramadhan ini. Taufik bercerita seminggu yang lalu dengan sebuah bis penuh anak yatim dia mengajak mereka ke sebuah tempat wisata.

”Seneeeeng mas lihat mereka bisa main bareng, belum tentu saya dapat ketemu Ramadhan lagi tahun depan, gak bisa ngajak mereka main lagi..” 
katanya terbata-bata, matanya sembab, tangannya berulangkali menyeka air matanya. Taufik yang biasanya lucu di TV tiba-tiba menjadi orang yang sendu mengharu biru.

Entah apa yang ada di benak Taufik Savalas waktu itu, sehingga pertanyaan wartawan itu dia jawab hingga meneteskan air mata, seolah-olah ada sesuatu yang sangat menyentuh dirasakannya. Bulan Juli 2007 dalam perjalanan untuk shooting sebuah acara di Purbalingga, mobil yang Taufik tumpangi dihajar truk tronton bermuatan semen yang melaju kencang. Taufik meninggal bersama 2 penumpang lainnya.

Wawancara 9 bulan sebelumnya itu seperti sebuah pesan, ketika jatah waktunya di dunia sudah habis, apapun alasannya maut bisa menjemputnya dengan berbagai cara. Taufik memang tidak bertemu lagi dengan Ramadhan yang tiga bulan lagi akan menjelang. Dia pergi dengan meninggalkan nama baik, ditangisi jutaan orang yang selama ini terhibur dengan tingkah gayanya. Stand Up komedi yang dulu jadi icon dirinya, sekarang jadi acara-acara favorit di berbagai stasiun TV. Bahkan menjadi segmen wajib di berbagai acara kampus, di pesta-pesta, dan acara kumpul-kumpul lainnya.
Banyak yang kangen dengan tubuh gembulnya, canda tawa polosnya... hanya terobati dengan video-video lawas yang diakses melalui sosial media..


-------------------------------