Senin, 22 April 2013

Para Perayu...

"Tuhan senang kepada orang-orang yang manja kepada-Nya" - Emha Ainun Nadjib

Pesan Trend Ilmu Giri, Selopamioro Bantul.. Pertengahan 2012
Mujahadah malam itu baru setengah jalan, 300an jamaah yang berkumpul di tempat itu masih berdoa, masing-masing memanjatkan hajatnya. Usai membaca Al Fatehah 41 kali, seluruh jamaah berdiam diri.. Sunyi..
KH. Nasrudin Anshory mengajak seluruh jamaah untuk berdoa, apapun yang diminta, keheningan lereng bukit itu, semilir angin menjadi saksinya.. Seolah malaikat turun bersama para petani yang datang berduyun-duyun berjalan kaki, menghimpun doa-doa mereka yang berserakan dan membawanya ke langit sana...

Usai berdoa, tausiyah malam itu Gus Pur yang berbagi cerita, bersama ayam ingkung dan nasi gurih yang dibagi kepada seluruh jamaah...
"Ada seorang Kyai pimpinan Pondok Pesantren di Purworejo sana yang mengajarkan kita tentang ilmu Tauhid dengan cara sederhana..." Gus Pur mulai berbicara.
"Beliau sangat menjaga sholatnya, bukan hanya kata-katanya yang lembut tapi juga kebersihan tubuhnya. Jika menjelang sholat Dzuhur jam setengah dua belas beliau sudah mandi, berganti baju, menyisir rambutnya, memakai minyak wangi, rapi seperti akan bertemu dengan kekasihnya.. Adzan berkumandang beliau sudah ada di Masjid, beribadah dengan begitu tenang.. seolah dunia dan seisinya tidak mempengaruhi kekhusukannya.." lanjut Gus Pur
"Begitu juga ketika akan Magrib, jam 5 beliau sudah rapi, menunggu petang dengan tenang, seolah-olah Magrib datang adalah pertemuan dengan kekasihnya yang telah lama dirindukan... Berdoapun beliau begitu khusuuuk, menadahkan tangan seolah-olah itu adalah sholat terahirnya"

Jamaah yang hadir terdiam...
"Sementara kita, kadang sholat hanya sebagai syarat.. Buru-buru dikejar waktu, pertemuan dengan Allah hanya seperti mengisi absen di kantor, begitu cepat dan kita pergi lagi.. Tidak ada dialog dari hati, sholat kita seperti tak dinikmati..."
Aku pun mengangguk mengiyakan...
"Sekali waktu seorang santri mengabarkan kalau motor pak Kyai hilang, jawaban beliau nyaris tanpa beban kehilangan.. 'Kalo Allah menghendaki motor itu kembali, pasti akan kembali lagi..'
Tak lama seorang santri datang lagi, mengabarkan kalau motor sudah ditemukan, mogok dipinggir sawah dan ditinggal maling yang mengambil dari pekarangan..."
"Itulah bedanya kita dengan beliau, kita kalau kehilangan motor pasti yang dituju pertama paranormal dan polisi... Kalau pak Kyai pasrahkan pada Allah, Dia yang Maha Kuasa yang akan mengurusnya.. Yakin se yakin-yakinnya"

Angin semilir di Bukit Selopamioro yang sunyi ini seolah ikut membisu, mengajak semua hati yang hadir untuk takhluk pada-Mu...

-------------------------------

Sabtu, 20 April 2013

Misscall dari langit..

Ketika Tuhan memanggil, apakah kita terus berpaling..?

Tebet, Oktober 2011
Warung Ayam Bakar Mas Mono siang itu penuh pengunjung, menjelang tengah hari orang-orang berdatangan untuk makan siang. Dulu warung ini hanyalah warung mungil yang nempel di tembok sisi kanan, perjalanan waktu dan kegigihan Mas Mono dalam membangun bisnisnya membuat warung itu membesar, melebar dan mengalirkan pundi-pundi uang yang tak berkesudahan..

"Saaap.. tunggu dulu yoo, aku meluncur kesitu bawa Alphard baru nih! gress dari dealer!" teriak mas Mono via HPnya
"Yooo tak tungguuuu.." balasku sambil berseru..
kawanku ini memang unik, selalu ada kejutan yang nyleneh. kali ini apalagi yang bakal jadi guyonannya..
"Sap.. lihat keluar.. lihat keluar!!" 
"thoot thooot!! sebuah bajaj dengan warna orange mengkilap masuk ke halaman warung itu, mungkin itu klakson kereta yang dipasang.
lalu nongol lah kepala manusia itu..
"apik to alphard ku! haa... hahaha!!" katanya cengengesan
begitulah gayanya, rejeki memang gampang datang kepada orang-orang yang suka gojekan.. ibuku dan istriku yang terus tertawa terpingkal-pingkal





Minggu, 14 April 2013

Ibumu... (lagi)

datangi ibumu... rasakan getarannya.. dalam dirinya ada keberkahanmu, keajaibanmu, asal kau tau cara mendapatkannya...

Rumah Sakit Panti Rapih Jogja 2012...
"Sebaiknya pasien ini dibawa pulang saja, sudah seminggu tidak ada perkembangan yang berarti. Setengah koma, banyak organ tubuhnya yang sudah tidak berfungsi.. Dana dari #SedekahRombongan bisa digunakan untuk pasien lainnya yang lebih membutuhkan.." Dokter itu menjelaskan pada kurir #SR yg malam itu ada disana.

Karman dan Faisal berembuk, malam itu juga atas persetujuan keluarga bu Mugiyem kami antar pulang ke Bantul. Ambulance #SedekahRombongan melaju di Jogja yang mulai gelap, usaha maksimal sudah diberikan namun kondisinya terus mengalami penurunan.
Di rumah sederhana itu warga sudah berkumpul, sejak beberapa hari lalu digelar pembacaan Yasin untuk kebaikan bu Mugiyem. Apapun kondisinya keluarga sudah pasrah. Dibantu beberapa warga tubuh kurus itu diturunkan dari ambulance. Faisal dan beberapa kurir masuk ke dalam.
Suasana hening, wajah bu Mugiyem tampak melotot dengan mulut terbuka. Nafasnya masih ada, sesekali tersengal-sengal walo lemah, ingin mengatakan sesuatu yang tidak bisa diungkapkan dengan sisa tenaganya.
"Endi mbokne? Kon ndene.." Sesepuh desa meminta ibu dari bu Mugiyem mendekat, duduk di ruang tengah itu.
"Simbok, Gusti Allah itu Maha Pengampun.. Lihatlah anakmu ini, saat ini diantara kondisi hidup dan mati, Allah seperti menunda-nunda kematiannya karena ada sesuatu yang belum terselesaikan.. Simbok, jika memang anakmu ini ada salah maafkankan, semua kesalahannya dari yang dulu masih membuat sakit di hati simbok, ikhlaskan semua.. agar jalannya pulang dimudahkan Allah" suara sesepuh itu berwibawa memintakan maaf bu Mugiyem.