Selasa, 27 September 2011

Kanjeng Nabi..

saatnya belajar berterimakasih kepada Sang Pencerah kehidupan…

Komentar di yahoonews ini semakin gak karuan. Semua hal jika ada isu sensitif langsung deh dihubungkan dengan SARA. Berita soal walikota yang poligami ujung-ujungnya nyerempet Nabi. Hotnews soal bom bunuh diri, Nabi ikut disalahkan dan dibenci. Semua jadi debat kusir, caci mencaci, ancam mengancam, dan ujung-ujungnya nol besar. Pada menghilang tanpa penyelesaian dan kesimpulan. Berdebat di dunia maya benar-benar seperti melawan JIN AIPRIT! Gak jelas yg kamu debat dan kamu lawan. Bisa jadi orang yang paling keras mendebatmu adalah tetangga depan rumahmu yg pakai nama palsu... emosi terpancing untuk sesuatu yang gak penting. Semua berlagak pintar dan jadi yang paling alim tanpa tanding.


Sabtu, 17 September 2011

Sedekah (tak) Berbalas...

Ketika kita mulai sombong hitung-hitungan dengan Tuhan...


Banda Aceh, 2010
Malam itu selesai sudah mentoring yang aku lakukan untuk Entrepreneur University di dua kota, Medan dan Banda Aceh. Hari sudah larut malam, peserta kelas itu ternyata bukan hanya asli dari Nangroe Aceh, banyak juga orang Jawa.. kami sempatkan untuk foto-foto bersama, setelah rentetan pertanyaan kuselesaikan semua... Aku kembali ke kamar hotel, badan penat penuh keringat, 3 jam lebih mulutku berbusa-busa untuk mentoring ini.
Ketika aku sedang merebahkan badan sebuah SMS masuk. "mas Saptu, maaf ya untuk fee mentor dan biaya tiket pesawat belum bisa kami transfer malam ini.. secepatnya kami kabari.. trimakasih"

Sabtu, 10 September 2011

Tabungan di Kuburan

"Hartamu yang tidak pernah habis adalah yang kau belanjakan di jalan Allah" begitu kata pak Guru.

Jatinom Klaten, 9 September 2011
Hari sudah rembang petang, matahari sudah memancarkan sinar orange berkilau di horison barat. Kupacu mobilku menyusur jalan di pedalaman Klaten itu, dari Salatiga menuju Jogja. Aku belum sholat Ashar, Ibu dan Istriku sudah menjamak sholatnya di Salatiga tadi. Ada sebuah masjid kecil dipinggir jalan, kebutuhan ini harus kutunaikan. Aku sholat di pendopo luar masjid yang sunyi itu.. selesai di rakaat terakhir aku tercenung dengan apa yang ada di depanku, sebuah kotak infak yang berbentuk seperti batu nisan kuburan. Bentuknya yang unik seolah-olah mengingatkan jamaah, "hayooo nabung, ini yang akan menemanimu di kuburan nanti"

Minggu, 04 September 2011

Mushola di Pojok Desa

Ketika kita disadarkan bahwa Tuhan begitu dekat dengan kita, bahkan kita bisa memanggil-Nya dalam nafas satu helaan...

Jogja Mei 2006...
Bumi tiba-tiba bergemuruh pagi itu, suaranya seperti auman yang mengerikan. Kayu-kayu atap rumah berderak-derak dengan keras, saling menghantam kiri dan kanan. Aku langsung melompat dari tempat tidurku. Lantai rumah yang kupijak seperti dek kapal dihantam gelombang. Dengan terhuyung-huyung aku keluar rumah nyaris terjerembab di tengah jalan. Orang-orang berlarian, berteriak ketakutan. Nama Tuhan bersahutan diteriakkan. “KRAK... KRAK.. BUMM!!!” aku menoleh ke kiri, mushola tua itu seperti menemui ajalnya. Atapnya lepas satu persatu, tembok kiri kanan saling cerai berai, melepaskan diri ke berbagai arah jatuh berdentum menimpa bumi.