Kamis, 09 Juni 2011

Kartu Nama Sang Ustadz

(sebuah tulisan lamaku di Note Facebook)


Seminggu yang lalu aku diundang mengisi seminar entrepreneur di depan 250 orang mahasiswa anggota Kopma UNY. Entah mengapa namaku ditempatkan diatas nama Prof. Suminto A. Sayuti di backdrop, padahal harusnya nama Guru Besar calon rektor UNY itu lebih pantas diatas namaku yang masih ecek-ecek ini...
Yang menarik, moderator acara ini adalah ustadz, budayawan dan juga seorang intelek pengarang puluhan buku HM. Nasrudin Anshory. Selama ini aku belum pernah bertemu beliau langsung, hanya mendengar aktivitasnya sebagai pimpinan Pesan Trend Ilmu Giri, Bantul dari media massa yang kubaca.


Tulisan pesantrennya memang beliau plesetkan jadi Pesan Trend, menunjukkan kalo pimpinannya orang nyeleneh dan "bukan orang sembarangan"... Membawa pesan yang sedang trend!
Prof. Sayuti menggebrak sesi pertama dengan tema anak muda yang berbudaya, beliau ini sudah keliling dunia berbicara di forum budaya internasional hingga ke Suriname sana.... Seluk beluk wayang, yang dikaitkan dengan kondisi anak muda dan politik jaman sekarang beliau sampaikan dengan sangat lugas dan jelas... seorang ilmuan budayawan yang rendah hati menginjak bumi.



Akhirnya sesiku dimulai...
Aku mulai dengan sebuah kalimat, "kalo yang tadi berbicara dan moderatornya adalah orang-orang berbudaya, yang ini orang tidak berbudaya, buktinya sudah lemmu (gemuk), kuliah di UGM pun IPKnya cuma 2 koma seiprit!" gelak tawa peserta sudah semakin membuatku semakin menjadi-jadi..
Diakhir sesi aku bercerita tentang The Power of Giving, kekuatan sedekah dan inilah sepertinya yang menjadi link-ku dengan Ustadz Nasrudin, ketika aku duduk komentar pertama beliau hanya singkat... "hebat yaa.." sebuah pujian yang agak berlebihan, karena aku tau kapasitas beliau sebenarnya..

Di sesi tanya jawab, aku ingin Ustadz Nasrudrin bukan hanya sebagai moderator, tapi sebagai sparing partner dalam diskusi yang melengkapi sesi ini. Ketika pertanyaan soal sedekah dalam mempermudah bisnis, lulusan Pesantren Tebu Ireng ini bercerita begini, " Saya dulu hidup di Pesantren berbulan-bulan tanpa uang sepeserpun, karena orang tua yang tidak mampu, sampai satu ketika kakak saya datang dengan membawa amplop berisi uang 50ribu titipan dari ibu saya, pesan ibu uang ini "diwet-wet" (jangan boros) karena ibu menjual perhiasan untuk mendapatkan uang itu... Saya menangis, saya masukkan lagi uang itu ke dalam amplop untuk dikembalikan kepada ibu. Saya lalu keluar rumah, saya menatap langit dan bersumpah... Ya Allah, engkau boleh memutus rejekiku, tapi jangan jadikan aku ini beban untuk orang lain!!"
Mendengar cerita itu aku bener-bener merinding! Bagaimana transaksi rejeki memang harus kita langsung lakukan kepada "langit"


--------------------------
Sesi tanya jawab berakhir...
Ketika bersalaman aku berikan kartu namaku kepada Ustad Nasrudin, sambil kuminta juga kartunama beliau...
"maaf mas, saya ini seperti pak Harto je, gak pernah punya kartu nama, monggo dicatat saja nomer saya.."


Kusampaikan lain waktu aku ingin bersilaturahmi ke Pesan Trendnya di Imogiri... lalu aku pamit, ketika memutar mobil diparkiran tiba-tiba seorang panitia mengejarku,

"Mas Saptuuu ini ada sebuah buku titipan dari Gus Nas", 
Aku menengok kebelakang, ustadz Nasrudin ternyata juga di parkiran sambil melambaikan tangan kepadaku, kubalas dengan acungan jempol...

15 menit berlalu....

Ketika aku turun dari mobil sampai di Kedai Digital, sebuah SMS masuk, dari ustad Nasrudin, isinya sederhana: 

"mereka boleh menolak kita, menentang kita, menghina dan mencela kita, tapi percayalah mereka TIDAK AKAN BERDAYA MELAWAN DOA-DOA KITA!"
aku tercenung membacanya...
dalam dunia bisnis yang keras dan penuh intrik, kecurangan, dan akal licik kompetitor ada dimana-mana, dan semua itu hanya bisa hadapi dengan hati yang ikhlas dan doa-doa kita... Agar kita selalu berbisnis dengan kejujuran... Itu yang akan membuat kita selamat dunia akhirat.
Hari ini saya dapat ilmu baru...
Hari ini saya juga dapat guru baru...

Di depan kedai aku memandang langit...
Mengisi hatiku dengan doa-doa terbaik untuk hidup yang lebih bermanfaat...

"Kartu Nama" dalam bentuk SMS dari ustad Nasrudin Anshori ku simpan di dalam hati, lebih abadi dibanding kartu nama kertas yang disimpan di dompet, lecek dan hanya diduduki....

*Diketik di Jogja, dibaca dimana sadja...
27 Feb 2010







4 komentar:

Bayu mengatakan...

Super Duper merinding masss!! tambah ilmu nih!

FEbyNyenk mengatakan...

Tiada kata2 selain Subhanallah ! ^^

ybagio mengatakan...

jika kita selalu tergantung dengan Alloh dan sadar bahwa smua yang ada pada kita karena DIcukupi, DIberi oleh Alloh dan bukan MERASA CUKUP dengan keadaan kita.... SAya yakin Alloh akan selalu mencukupi kita dalam keadaan apapun dan kondisi apapun......CUKUP kita DICUKUPI ALLOH.

Anonim mengatakan...

mas saptu...
salam kenal dari medan..
lanjut terus tulis-tulisannya ya mas..
inspiring banget..!!!