Kamis, 09 Juni 2011

Emha Ainun Najiz!

(Sebuah catatan lama di Note Facebookku)
Baru lima menit aku duduk di kursi empuk dalam bioskop itu, bulu kuduk sudah merinding melihat intro film Ayat-Ayat Cinta, suara Cak Nun menggema di dalam ruangan itu melantunkan Shalawat Nabi, sebuah gambar padang pasir, dengan butiran pasir yang meleleh tersapu angin... Suasana saat itu lebih mirip di masjid, bukan selayaknya di Gedung Bioskop..

"Ya Nabiiiiiiii.....
Ya Nabi salaaaaam alaihhhhii...
Ya Rasuuulll... Ya Rasul Salaaam...."Merinding... Tembus ke sumsum tulang!

Boulevard UGM, Medio 2000..
Panggung besar sudah dipasang sejak kemarin, di tengah-tengah pertigaan timur Purna Budaya. Jam 7 malam jalan itu sudah penuh oleh para mahasiswa dari berbagai kampus di Jogja. Mereka duduk dengan damai memenuhi seluruh pelataran, malam cerah, bulan bersinar cemerlang.. Malam itu Kyai Kanjeng manggung di Kampus UGM. Seluruh gamelan, gitar, biola, dan semua alat musik sudah siap disana, panggung masih sunyi, namun semua tidak beranjak dari sana. Tiba-tiba muncul suara tanpa rupa.. "Mari.. Adik-adik mahasiswa, yang masih dibelakang maju saja, kita buat malam ini damai untuk semua! Mari.. Mari.. Maju saudaraku.. Bergabunglah dengan kami malam ini"
Kutengok kanan kiri, dari mana asal suara itu tidak ketemu... Sebagian penonton yang masih dipinggir mulai meringsek ke dekat panggung.
Sesosok tubuh berjalan dari balik kerumunan penonton, memakai kemeja biru dengan lengan dilipat... Membawa wireless mic berjalan ke arah panggung, dialah pemilik suara itu..

Emha Ainun Nadjib..
Kyai Mbeling.. 
Kyai tanpa jubah dan kopiah.. 
Kyai tanpa jenggot panjang dan tasbih di tangan.. 
Dialah yang aku tunggu malam itu, sosok yang aku kagumi sejak jadi mahasiswa dulu..

Suaranya kembali menyapa... "Assalamualaikum untuk saudara-saudaraku yang beragama Islam.. Assalamualaikum untuk saudara-saudaraku yang beragama Nasrani, Katolik, Hindu, Budha, dan untuk anda yang penganut kepercayaan Tuhan yang Maha Esa!.... Islam itu Rahmatan Lil Alamin.. Maka itu aku sampaikan salam untuk saudaraku semua..."
Sebuah pembuka yang sudah membuatku ndomblong...

Sambutan yang luar biasa penuh kedamaian..
Malam terus larut, Kyai Kanjeng tampil memukau semua yang hadir, alunan gamelan dipadu suara keyboard dan gitar yang penuh magis, disempurnakan suara biola yang mengalun ritmis..

Disela-sela lagu Cak Nun menyampaikan tausiyahnya. Sebuah pemikiran dan pertayaan yang segar, memberontak, cerdas, penuh hikmah, dan tentu sadja.. Mbeling!
"Mengapa Soeharto ketika dipaksa turun oleh mahasiswa harus meminta pertimbangan Ainun Najizzz ini..??!!" Suaranya begitu menggelora..

Malam yang cemerlang...
Lebih menusuk hati dibanding "Slilit Sang Kyai"
Aku pulang ditengah malam dengan sejuta angan-angan...

---------------------------
Medio 2007, Halaman Jogja Expo Center
Setahun sudah gempa Jogja melanda, malam ini Kyai Kanjeng manggung lagi, aku berbaur bersama para penonton lainnya.. Lesehan, kembali di bawah langit. Penasaran Cak Nun ngomong apa malam ini..
"Beberapa orang yg bisa melihat masa depan mengatakan kepada saya, Cak.. Suatu saat nanti di Jawa akan ada gempa lagi, guede tenan cak Gempane. Piye iki cak?" Dia mulai bercerita malam itu..

"Hambok daripada kita mikirke gempa, mending kita semua mari berdoa bersama setiap hari, kita rayu Gusti Allah agar menghilangkan gempa itu, kita Mohon pada Allah agar mengirimkan malaikat-malaikat yang akan memegang rumah kita ketika gempa itu datang! Biarkan bumi bergoyang, tapi rumah-rumah kita semua selamat... Mari mari, kita njaluk marang Gusti Alloh langsung.. Kita undang malaikat datang langsung ke rumah kita" aku kembali ndomblong...
Suara itu kembali menusuk-nusuk hatiku..
Malam yang cemerlang...
damai penuh bintang...

----------------------
Stock Well Jogja, tahun 2007..
Aku sedang memilih beberapa celana di sana, lumayaaan harganya murah, reject sedikit tapi masih layak pakai.. Toh tidak ada orang yg akan berkomentar jika ada sebaris benang lepas di ujung celana kita..
Tiba-tiba mataku tertuju ke seseorang, duduk di kursi dekat rak-rak celana, sambil SMSan, sosok yang tidak asing lagi dimataku, Cak Nun.. Kyai itu..
"Ngopooooo dia keluyuran di sini", tapi pertanyaan itu tidak keluar dari mulutku, padahal jarak kami hanya 5 meter.. Klakep, mulutku seperti terkunci!
Mau nyapa duluan dikira sok kenal..
Mau ngajak salaman takut mengganggu dia.. Akhirnya aku cuma ndomblong saja..
Sesekali melirik dia, siapa tau dia nyapa aku duluan...
Huuf! Kok aku deg degkan seperti ketemu artis paling tenar saja! Moment itu hanya 10 menit, ternyata mbak Novia Kolopaking lagi belanja, dan Cak Nun menemani istrinya.. aku masih melihat punggung mereka ketika mereka turun tangga...
Meninggalkanku yang masih ndomblong!
Menyesaaal kenapa tadi gak minta foto bareng..!

Hari berlalu, saya membaca di kompas, Kyai Kanjeng sedang tour keliling Eropa, mereka manggung di masjid, di gereja-gereja, dan mendapat sambutan yang luar biasa. Pesan perdamaian yang mereka bawa diterima dengan sukacita.. Ah! Seperti apa Cak Nun dan Kyai Kanjeng sekarang. Sudah 2 tahun saya tidak melihat penampilan mereka..
............

14 Mei 2009,
Aku baru tahu kalo Fira salah satu crew ku saat itu jadi backing Vokal Kyai Kanjeng, suaranya yang bagus dulu sering manggung di cafe-cafe, sekarang ada peningkatan jadi backing vokal Kyai Kanjeng. Duduk didepan, sejajar dengan Cak Nun dan Mbak Novia..
"Mas, nanti malam aku manggung lho di LPP, mau lihat enggak? Bareng Kyai Kanjeng!" Katanya waktu itu..
Waah kesempatan nih! Pengen lihat penampilan Kyai Kanjeng setelah keliling Eropa. Malam itu Aku meluncur ke LPP jalan Solo. Acara internal untuk para karyawan LPP, dengan bantuan Fira aku bisa menelusup masuk.

Malam itu Kyai Kanjeng tampil tetap sempurna, Cak Nun tampil penuh kharisma, seluruh penonton tertawa, dan terpesona.. Ketika mereka menyanyikan lagu gereja yang diaransemen ulang, dipadu dengan shalawat nabi, sungguh.. Luar biasa, siapapun tidak akan mengganggap kalo itu sebuah pelecehan agama.
Kyai Kanjeng hadir dengan sentuhan damai yang luar biasa..


Acara selesai, aku memborong beberapa buku dan CD terbaru Cak Nun, lalu beranjak ke parkiran.. Langkah aku terhenti, ketika ternyata arah aku sejajar dengan pintu keluar dari panggung. Di depan saya berdiri Cak Nun dan para personil Kyai Kanjeng, termasuk Fira.. Dia langsung berkata, "Cak, ini lho Bosku di Kedai Digital.."
Deg..!! aku tidak bisa lari lagi...

Ku ulurkan tangan,mencium tangan beliau...

"Saya Saptu Cak, Saya temen kerjanya Fira"
"Oh iya mas, wah iya to.. Dimana kantornya?" sambut Cak Nun dengan jabat tangan yang erat,

Kami mengobrol beberapa kalimat, kusampaikan kalo aku mengoleksi beberapa bukunya, aku pun minta bisa foto bersama.. Jepret..!
"Ayo-ayo sekali lagi!" Cak Nun malah yang meminta untuk difoto ulang...
Malam itu cemerlang...
9 tahun sejak aku dibuat kagum di boulevard UGM itu, dan malam ini tercapai sudah angan itu.....

"Setiap Kebaikan Allah ganti dengan 700 kali kebaikan, setiap kecurangan Allah ganti dengan kehilangan dunia akhirat.."

Tulisan itu tertera di cover belakang VCD Kyai Kanjeng yang ku beli.. Dan ini pastilah bahasa Cak Nun yang diambil dari Alquran. Sebuah peringatan agar jangan membajak VCD itu, halus, namun lebih tajam daripada kalimat: "Barangsiapa yang mencopy, menjual, mengedarkan, bla bla bla.. Diancam dengan hukuman.. Bla bla!"
kuambil kalimat itu.. ku ketik, diprint, lalu ku tempel di dinding di beberapa ruang kerja di Kedai Digital, sebuah peringatan, agar seluruh karyawanku selalu menjunjung tinggi kejujuran dalam bekerja.


Seminggu kemudian..

Seorang karyawan minta bertemu  secara pribadi, dengan wajah tertunduk dia minta maaf karena pernah berbohong soal pekerjaan yg merugikan Kedai Digital. "Gara-gara tulisan itu mas, aku sadar, kalo duit itu gak berkah.. Seminggu lalu aku operasi gigi mas, sakit rasanya.. Aku habis ratusan ribu. Pasti ini karena aku pernah curang dulu. Aku siap di keluarkan dari Kedai mas.."
aku melongo...

"Berapa uang kedai yang pernah kamu ambil?" Tanyaku..

"80 ribu mas.."
Rasanya aku ingin nangis mendengar pengakuannya, sebuah kalimat dahsyat yang bisa membalikkan hati seseorang..

kutepuk punggungnya, aku minta uang itu untuk disumbangkan ke masjid segera, saya minta dia kembali bekerja... Mataku berkaca-kaca setelah kepergiannya..
----------------

Cak Nun,
Ajarkan kami untuk selalu memiliki hati yang bersih penuh cinta..
Ajarkan kami untuk terus selalu berdoa dan pasrah kepada Allah dengan sepenuh Jiwa...
Cak Nun,
Ajarkan kami untuk mengundang para malaikat datang ke rumah kami, biar mereka memegang rumah kami jika ada gempa..
Cak...
Ajari kami untuk selalu berkaca, agar kami sadar bahwa diri kami masih penuh najiz-najiz dan belum layak dapat ridho Nya..
Ajari kami untuk menjadi manusia yang bermanfaat, dan selalu tunduk kepada Nya, menjadi bagian hidup yang Rahmatan Lil Alamin..

Bismillah.. Kami akan terus memulai Cak...

------------------------------
Menjelang akhir film,

Ketika adegan Fahri dan Aisya sholat bersama Maria menjelang ajalnya, suara Cak Nun kembali mendayu-dayu.. Haru biru di setiap penjuru.. Aku menengok ke deretan kiri kanan penonton di sampingku, semua tampak berkaca-kaca dan meneteskan air mata..
Aaaah.. Jika kufoto, blizt kameraku tentu akan mengganggu tangisan mereka!


*diketik di atas kereta Lodaya Bandung-Jogja, dibaca di mana sadja..
2 Maret 2010

19 komentar:

Dewi Laila mengatakan...

Aku nangissssss mbacanya....!!! bikin tulisan yang banyak dong massss

back to right way.. mengatakan...

luar biasa mas, tulisannya mungkin inspirasi yang besar bagi kami,, akan saya bookmark blog m.saptu,, :-bd

roepa2-qu mengatakan...

alamat webnya cak nun sekarang yang masih aktif apa ya
www.padangmbulan.com kok dah gak aktif lagi

mustdg mengatakan...

langsung brebes mili

andri mengatakan...

tulisannya renyah,mudah dan mengarah selalu semangat nulis mas...

etzcoy.blogspot.com mengatakan...

mas saptuari sy mgerti blog anda dr acara kick andy, salam kenal ya mas.. ternyata masnya hobi nulis ya . he he

daengjuphe mengatakan...

Sekedar "kompen" aja
♏ǛǜªªªªƞŊŋ†Ƭ†ªªªªªPP bang...

@ayarasya mengatakan...

Haruuuuuu :'(

Anonim mengatakan...

langsung nangis aku mas baca tulisan jenengan..tak cukup sehari penuh brebes...terlebih aku yg kerja di lingkungan birokrasi =(

Maztrie Utroq mengatakan...

Sangat sangat menyentuh dan membuat trenyuh Mas...

Matur nuwun sharing ipun njih Mass....
:(

Jasa Pembuatan Software mengatakan...

Subhanallah,dahsyat banget tulisannya, sangat menyentuh hati.

Rinda Maya Safitri mengatakan...

mantappppppp....bikin orang nangis aja....

StrawMild Blog'z mengatakan...

mas, boleh minta tolong.. apakah mas tau, kapan cak nun ke UGM lagi??

alapsky neo mengatakan...

Ketemu mas saptuari di warung bakso granat
Dkat bandara adi sucipto

lisa s mengatakan...

Haru biru !

Root mengatakan...

Luar biasa!!!! sangat menginspirasi, suwun mas...

Banyak opini2 dari Cak Nun yg menginspirasi, sampeyan beruntung bisa ketemu langsung dg Cak Nun, kl aq msh dlm asa belaka :) mudah2an suatu saat nanti aq bisa bertemu beliau.

irul huda santri kajen mengatakan...

inspiratif, . . . .

tiOmy b adi mengatakan...

whalaahhh..tiwas nyepakno tissue sak hoha..tibak e tulisane mek sak uplikk....hehe( inspiratis kang mas.."Good Luck"everything.."Gusti Allah Mboten Sare"

uye oke mengatakan...

Semua perbuatan akan mendpt buah. Sebar benih n menuai ITU pasti